qwer121165
" I think I understood a little," said the girl putting her fingers on her chin with a pensive face and said " So to really be free I need to get strong and move to the north," said her getting into a conclusion.
She feels a soft warm, and wet sensation on her cheeks.
Sophia shyly said," Don't exaggerate. He was just helping."
Ground dust (Not the Dust That has elements) were spreading everywhere and it starts to clear, and Gin was nowhere's to be found.
"Why do I feel like I don't even have the freedom to decline your honorable offer, dear sir?" I ask sarcastically. This is just too unfair.
Blood Wang Zhengzhong received Dan box, others are indefinite, the blood king actually knows, before easy cloud, repaired to break through, moreover was this compounded drug merit!
"It doesn't make sense," Bellona furrowed her brows. She was staring directly at Shirou who stood opposed to her, neither attempting to provoke or dissuade her. Instead, he did nothing. He just stood there, and yet an unforeseen energy blanketed around him like a protective garment. "War favours him."
I smirked and gave him a devilish smile."Oh I'm sorry, forgive my hands. It slipped."
A chilly air was being strongly emanated from the young girl's body along with a faint, soft blue light that was wrapped closely against her skin, making her already fair complexion look even more pale and stunning.
"Kau ini, kenapa sulit sekali mengaturmu." Yoona tertawa mendengarnya, setelah itu ia langsung berlari kecil menuju toko bunganya.
Berdiri ditepi jalan menunggu lampu hijau menyala. Padatnya pejalan kaki membuatku terpaksa sedikit menempel pada tubuhnya. Berkat itu tanganku yang bebas terus bersentuhan dengan punggung tangannya. Berusaha tenang dan terus menunggu. Tidak seperti ketika kami pergi, kali ini jalanan jauh lebih padat. Lampu hijau menyala dan aku segera melangkah. Baru saja melangkah beberapa langkah, aku sadar bahwa Yoona tidak ada di sampingku. Ketika aku berbalik mencari tahu, ternyata ia tengah kesulitan melangkah dikarenakan kepadatan pejalan kaki pada saat itu. Tidak mungkin berdiam saja, aku melangkah menghampirinya. Dengan santai meraih tangannya lalu mulai menuntunnya. Jarak penyebrangan lumayan jauh dikarenakan kami berada simpang 6 yang luas. Takut ia terlepas dariku, tanganku reflek bergerak lembut turun dari lengannya hingga mengisi setiap sela jemarinya. Menggenggam tangannya dengan erat barulah aku bisa merasa tenang.
"Jika memang kau menyukainya, kenapa kau tidak menghalanginya disaat ia memukul pria-pria itu? Apa kau tidak takut jika dia mendapatkan pukulan balasan? Jelas sekali bahwa kau hanya menyaksikan peristiwa itu."
