Diam sejenak dalam sentuhan itu. Deru nafasku dan dirinya menyatu. Suara detak jantung entah milik siapa terdengar berbisik. Seluruh tubuhku bergetar geli tapi penuh kehangatan. Usai itu, perlahan aku mulai bergerak lembut, melumat bibirnya dengan lembut. Batang hidungku hingga menekan tulang pipinya. Kurasakan tangannya yang menggenggam lengan jaketku erat. Tapi aku semakin menariknya kedalam dekapanku. Deru nafas kami semakin menggebu-gebu. Dinginnya angin musim gugur tak lagi kami rasakan. Kami sudah terlanjur terbakar api asmara. Kurasakan dirinya yang mulai membalas ciumanku. Gerakkannya pelan, tapi cukup menantangku. Ini sudah terlalu jauh, kurasa aku harus menghentikannya. Dengan setengah hati, aku menarik wajahku menjauh darinya. 5cm di hadapannya. Sama-sama tengah mengatur nafas. Perlahan kembali saling tatap. Ku usap pipinya yang lembut.