Sang ksatria berarmor tembaga terbelalak. Wajahnya memucat menghadap tanah. Ia merasa harapannya telah dihancurkan. Padahal tadi malam ia memohon pertolongan. Nyatanya Tuhan yang dibicarakan warga desa tidak datang menolongnya. Tidak datang untuk menyelamatkan negaranya. Mereka datang membawa bencana, berencana melenyapkan Calevo dan manusia.