"..." kulihat dia tak menjawab apapun. Aku memilih memanfaatkan itu dan segera melangkah pergi. "aku merindukanmu!" serunya dengan kuat. Dugg! Seakan ada sesuatu yang membentur hatiku. Desir hangat menggelitik tubuhku. Kutahan diriku untuk tak menatapnya yang masih berdiri dibelakangku. "tak bisakah kau kembali padaku?" suaranya terdengar parau, kurasa ia sudah menangis. Aku mendadak gelisah. Ya, aku tidak bisa tenang jika mengetahui bahwa ia tengah menangis. Kupaksakan tubuhku untuk kembali menatapnya yang berada 5 langkah dihadapanku. Benar dugaanku, airmata sudah membasahi pipinya.