"Ne.. majjayo." selanya. "aku memang sudah tiada." raut wajahnya berubah sendu. Tiba-tiba saja langit cerah bergantikan dengan gelapnya malam. Angin kencang menghempas tubuhku dan tubuhnya. Wajahnya mendadak memucat, menatapku sendu. "oraemaniya Sehun-a." masih tersenyum padaku. Kurasakan airmata yang sudah mengalir di pipiku. Mataku terasa panas. Jantungku berdetak berat. Aku sungguh terguncang. "sepertinya kau baik-baik saja. Syukurlah." kembali memperlihatkan gigi putihnya. Ia melangkah mendekatiku. Tubuhku seakan terpaku, tak mampu menghindarinya. "Sehun-a, ada yang harus aku katakan padamu sebelum waktuku untuk kembali tiba." menatapku yang tepat dihadapannya. Penuh keseriusan. "lupakan kejadian 5 tahun lalu. Kematianku sama sekali tidak ada sangkut-pautnya denganmu. Semuanya murni kecelakaan." ia memegang bahuku. Kurasakan tangannya yang dingin seperti bongkahan es. "jangan jadikan aku sebagai alasan untukmu menjauhinya. Jika kau mencintai, maka cintailah dia dengan sepenuh hati. Aku sebagai sahabat kalian tentu akan senang jika mengetahui bahwa kalian hidup bahagia. Kurasa kau sudah tahu bahwa Yoona juga menyukaimu. Lalu kenapa kau masih mengulur waktu. Kau hanya akan menyakitinya." dan kali ini menggenggam kedua bahuku. Menatapku tajam. "demi aku, kumohon. Jaga Yoona baik-baik." sentuhan itu tak lagi kurasakan. Wajahnya memudar. Begitu juga tubuhnya yang perlahan menghilang terbawa angin. Hingga akhirnya benar-benar tak terlihat lagi. Tinggallah aku disana dengan deru nafas beratku. Kenyataan untuk menerima kepergiannya benar-benar menyakitkan. Aku hingga terisak hebat tak kuasa menahan kesedihan itu. Tiba-tiba saja kurasakan sesuatu menarik tubuhku dari sana. Dengan kuat hingga akhirnya aku terbangun dari mimpi itu. Ya, aku baru saja terbangun dari mimpi.