SPIRITKING
Kai-La then redirected the cells in Danzos brain to start to grow a new arm. It was a slow process but it was visible to the eyes.
3 hari setelah itu. Kami semua kembali ke Seoul. Kembali melakukan aktifitas seperti biasanya. Yang berbeda hanya ada padaku dan dirinya. Walau kami menyembunyikan hubungan kami di kantor, sepertinya tetap saja ada yang mengetahuinya. Tak terlupakan untukku mengunjungi Omonim. Ibunya Yoona. Yang sudahku anggap seperti ibuku sendiri. Ia menyambutku dengan hangat. Memasakkanku banyak makanan. Tidak ada yang tidak kusuka dari masakkan buatannya. Itu karena ia memasakkanku khusus hanya makanan kesukaanku. Puas sudah, akhirnya aku bisa merasakan kehangatan pada keluarga ini. Keluarga yang nantinya akan menjadi keluargaku. Keluarga yang harus aku lindungi. Satu hal yang aku dapatkan dari peliknya masalah ini. 'Jangan simpan kata rindu. Datanglah padanya jika kau benar-benar merindukannya.'
"Irasshaimase.. (Selamat datang)" sapa pelayan yang ada dihadapannya. Yoona menjawabnya dengan sebuah senyuman.
[{In the Game Company}]
What actually caught her attention though was the seemingly impenetrable space surrounding him. Every seat and table around him was empty, which wasn't surprising since his aura, even from the back, was practically screaming 'I fucking dare you to sit next to me and breathe the same air as me, you worthless peasants.'
So whis said both of them while stopping them to fight again.
Suddenly feeling drowsy I slowly started falling asleep.
"I couldn't have imagine it" Francis responded.
"Hnh!" I could help but let a moan out.
After he got the information he wanted, he immediately broke Lester's neck.
"That doesn't sound fun," the girl said in a childish manner. "let's play something else," she said happily.
"Fuck! I know, I'm sorry, I'm so sorry my never meant for this to happen. She probably hates me!"
